Si Hitam

kulitku hitam legam. hampir menyerupai arang. kata orang. teman-temanku tidak ada yang ingin bermain denganku. mereka selalu mengejekku si hitam. tapi aku bukan malika. si kedelai hitam itu. seperti hari ini.

“hey hitam!!!!” ejek salah satu temanku. tapi aku tetap menoleh.

“kau mau ikut kami bermain?” ajaknya. yang sontak membuatku kaget. aku tersenyum lebar. dan mengangguk antusias.

“hahahaha… sayang kami mau bermain warna pelangi sedangkan hitam tidak termasuk warna pelangi, jadi tidak ada lowongan” ejeknya kembali. aku mendengus.

dari awal memang dia tidak berniat mengajakku. aku menunduk lesu. aku melihat kulit legamku.

“kamu tau? kenapa hitam tidak termasuk warna pelangi?” ujar seorang laki-laki asing yang tiba-tiba menyahut.

“mungkin karena warna hitam terlalu redup”. sahutku asal. laki-laki asing itu menggeleng. tampak tak puas dengan jawabanku.

“karena warna hitam terlalu kuat, ketika dia bergabung dengan pelangi, maka dia akan terlalu mencolok”. timpal laki-laki asing itu sambil tersenyum.

“seperti kamu, ketika kamu bergabung dengan mereka, mereka takut akan kalah saing denganmu, yang hitam eksotis. maka dari itu, Tuhan menciptakan langit ketika akan hujan berubah gelap. hitam. agar terlihat mencolok. agar para manusia tau akan kode tersebut bukan?”

aku mengangguk-angguk. tapi ada yang sedikit menggangguku. “benarkah cerita warna pelangi seperti itu?” tanyaku.

laki-laki asing tersebut hanya mengangkat bahu. dan mengarahkan telunjuknya di keningku.”jadi….”

“fateem” ujarku tiba-tiba. laki-laki asing tersebut tergelak. aku mengernyit heran.

“ya. fateem, jangan bersedih karena kamu kulitmu berbeda, semakin berbeda seseorang, maka ia akan semakin menarik, mempesona, karena setiap mata manusia akan selalu menatap yang mencolok, berbeda dan tentunya yang mempesona.” ujar laki-laki asing sebelum dia pergi meninggalkanku.

entah cerita itu bohong atau tidak. setidaknya cerita tersebut menambahkan setitik kepercayaan pada diriku.

(cerita ini, kutulis untuk adikku tercinta yang selalu menangis karena ejekan teman-temannya)

semoga bermanfaat.

komunitas

Dalam sebuah hubungan kita harus mempunyai ikatan bukan?

Hubungan apapun jenisnya. Well, bukan hanya ikatan saja yang terpenting. Komunikasi juga menduduki yang tingkat tertinggi dalam hal rantai hubungan. Seperti berbicara dengan Tuhan lewat doa. Jika kamu ingin di beri, maka kamu harus meminta. Rumus dasarnya jika kamu ingin-di maka kamu harus me-. Kita tidak bisa main kode-kodean dengan tuhan. Walaupun kita tau, tuhan pun tau apa yang kita mau. tapi bukan berarti kita bersikap tidak tau diri dengan selalu berdalih “tuhan tau segalanya”. lalu slogan tersebut membuat kita tak pernah berdoa (meminta). dan saya yakin tuhan akan memutuskan hubungan secara sepihak. karena merasa telah kehilangan fungsi. buat apa adanya sepasang kekasih jika tak saling mengucapkan cinta. iya bukan?. dalam suatu hubungan ada kata saling. karena didalamnya ada hukum timbal balik.(oke, tulisan ini semakin tidak jelas).

Sehubungan dengan ini, sedikit bercerita, saya merasa tulisan saya terbilang masih sangat ecek-ecek. Dan agar tulisan ini, tidak terlalu receh.saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas blogger ikatan kata. Karena saya menginginkan tulisan yang baik dan benar. Maka saya harus membuat circle saya. Circle yang berisikan orang-orang yang mengerti dunia tulis menulis. Dan berhubungan, berkomunikasi dengan baik. Karena untuk hasil yang bagus. Kita membutuhkan Latihan dan pendapat  orang lain agar semakin berkembang. Dengan bergabung dengan komunitas blogger ikatan kata. Harapan saya, tulisan saya akan semakin lebih baik dan lebih baik lagi. Dan semoga teman-teman berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun. dalam kehidupan ini menurut saya. Ketika kita mempunyai target dan tantangan. Hidup akan terasa hidup bukan?. Nah, secara kebetulan lagi dalam komunitas blogger ikatan kata, terdapat target dan challenge. Yang membuat saya lebih semangat lagi untuk menulis. Agar saya  dapat menjelma seperti dewi lestari.

Nah, karena saya tidak mau menjadi dewi lestari atau andrea hirata sendirian. Ayo bergabung dengan komunitas blogger ikatan kata.Untuk melahirkan dewi lestari dan andrea hirata yang lain.

https://ikatankata.home.blog/join-us/ .

akhir november

ketika kau membaca ini. kau tengah menatapku. jangan kau bayangkan aku seperti angelina jolie ataupun raisa. karena aku tak secantik mereka. lagu india mengalun. bukan aku yang menyalakannya. tetangga kamar menyalakan terlalu keras. hingga musik ini terdengar gratis.

kau tersenyum.

kau menatapku tak berkedip. kau sedang menatapku atau sedang menghayalkan perempuan lain?

sungguh aku tak mengucapkan mantra apapun. jangan kan mantra, tak sepatah katapun keluar dari mulut ku. kau dan aku hanya saling menatap. aku hanya mengikutinya seperti air mengikuti setiap liuk aliran sungai. kemanapun bermuara.

harapku. kau mengucapkan “rindu jangan” tapi kau bukan dylan.

awal novemberku diawali dengan kau yang terus menatapku. bulshit tentang tipeku yang humoris. bukti bahwa aku yang cerewet ini betah hanya ditatap oleh mu. aku atau kau yang dungu?

besok dan besok lagi. kau tetap sama.

bagaimana dengan hari ini?

“matamu seperti mata kucing” aku kaget. dahiku berkerut. mata kucing tadi dia bilang. aku sontak tertawa. ternyata tawaku sereceh ini. kami tertawa. hanya itu yang terucap darimu. namun aku sudah sesenang ini.

aku menunggu apa lagi yang akan kau ucap. apakah akhir november ku membuat semua orang memandang iri? entah.

bagaimana akhir novembermu nanti?

Moyang Raksasa Timun Mas

Gelak tawa nya terdengar hingga seluruh penjuru rumah mereka yang mungil. Sesekali ia menoleh. Melihat putri kecilnya yang tumbuh oleh cerita Aba nya. Tawanya terdengar renyah. Ketika di luar sana para orangtua mengenalkan gadget. Lain halnya dengan putrinya. Ia tumbuh berkembang lewat cerita yang diceritakan oleh abanya setiap malam. Dengan mata berbinar dan antusias. Seperti malam ini.

Jauza tergelak lagi mendengar abanya mempraktikkan raksasa. Yang bernama auj.

“kalo di zaman nabi nuh itu ada raksasa, apa raksasa nabi nuh masih family dengan raksasa nya yang ada di timun mas aba?” abanya menggeleng. Ya. Peraturan dalam cerita aba. Adalah tidak boleh bertanya sebelum cerita selesai. Jauza meringis melihat aba nya yang tampak mengingatkan. Jauza terlalu gemas. Pertanyaan itu seolah berputar dalam kepalanya.

“jadi nabi nuh, meminta auj untuk membuatkan perahu, perahu yang akan menampung seluruh umat. Namun dengan nada mengejek. “hei nuh, lalu apa imbalan yang akan kau beri?” ujar Auj. Nabi nuh menyodorkan tiga potong roti. Melihat roti tersebut. Auj tertawa mengejek. “roti tersebut tidak akan pernah membuatku kenyang” nabi nuh menggeleng lalu berkata “cobalah memakannya sambil mengucapkan bismillahirramhmanirrohim”

Auj terkekeh. Namun ia mengambil sepotong roti dan memakan sesuai anjuran nabi nuh. Kemudian ia mengambil sepotong roti yang kedua. Dan sebelum memakannya ia mengucapkan bismillahirrahmanirahim sesuai anjuran nabi nuh.

Ketika nabi nuh menyodorkan potong roti yang ketiga. Auj menggeleng. Sambil memegangi perutnya.

“tidak, perutkuu sudah penuhh” tolak auj. Nabi nuh tersenyum. Kemudian auj membuat perahu di bukit tertinggi dengan nabi nuh tetap mengawasi.

“jadi, pelajaran apa yang diambil jauza??” tanya abanya setelah menyelesaikan ceritanya. Jauza manyun. Fikirannya masih dipenuhi oleh apa hubungan antara raksasa timun mas dan raksasa auj.

Jauza tampak berpura-pura berfikir. “hmmm, tidak boleh makan banyak aba”

Abanya menggeleng. “ketika makan harus berdoa dulu, agar makanan yang jauza makan berkah, dan jauza akan cepat kenyang” ujar abanya.

“kok bisa doa sebelum makan bikin jauza kenyang?” tanya nya. Abanya tertawa.

“jadi, kalau jauza makan, dan tidak doa dulu, setan setan akan ikut makan dengan jauza, nah karna itu jauza jadi tidak kenyang, dan bilang ke mama tambah lagi dan lagi, karna jauza tidak berdoa”

Jauza meringis. Mengingat kejadian siang tadi. Karena lauknya sayur sop yang dipenuhi bakso. Jauza tambah sampai tiga kali. Dan yang keempat. Di tahan abanya.

Jauza mengangguk. Abanya mematikan lampu dan mengusap kepala putrinya. Sebelum berlalu. Jauza menarik tangan abanya.

“aba, auj itu kakek moyangnya raksasa timun mas?” abanya tertawa. Putrinya selalu penasaran. Melihat wajah jauza yang tampak berkerut penasaran. Abanya mengangguk.  Demi meredam. Rasa penasaran putrinya. Yang ketika dijawab tidak, akan timbul 100 pertanyaan jauza. Malam ini sudah cukup.

Biarlah jauza berfikir auj dan raksasa timun mas masih family. Abanya tersenyum membayangkan pemikiran anaknya.

 Jauza tampak tersenyum puas.

Esok paginya. Jauza sudah rapi duduk di depan meja makan. Melihat mamanya menyiapkan sarapannya. Jauza mengambil sendok, hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Namun di cegah abanya. Jauza teringat.

Dan ia langsung menoleh tajam  ke kiri dan ke kanan. Jauza menghela nafas. Dan segera berdoa.

“kenapa jauza menoleh tadi?” tanya mamanya.

“jauza tau ma, pasti setan-setan sudah mupeng pengen ikut makan bareng jauza, enak ajah,” ujar jauza . membuat mama nya kaget. Dan menoleh ke arah aba nya. Tertawa.

“aba ternyata melahirkan anak cerdas” sahut aba. Dan memberikan jempol kepada putrinya.

“aba, jauza nggak suka jempol aba, nggak bisa di makan”protes jauza

 Sontak aba dan mamanya tergelak. Jauza selalu pintar berbicara. Jauza meringis.

Juang (Part 1)

Jalanan lengang. Udara  dinginnya malam kian menusuk tulang. Seorang anak laki-laki dengan susah payah membawa 3 tumpuk kitab tebal yang dibawa nya. Ia melirik jam tangannya. Lima belas menit lagi bel musyawarah akan berbunyi. Ia menegaskan kepada dirinya agar selalu awal, sebelum teman-temannya. Dengan keterbatasan yang ia miliki .ia bernama juang. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Lengang. Ia salah duga ternyata dari arah kanan. Sepeda motor melaju keras. Hingga…

“BRAKKK”

Pengendara sepeda motor langsung bangkit dan meninggalkan juang yang terkapar di rerumputan sendiri. Semua kitabnya terpental entah kemana. Juang meringis, kakinya terasa sakit. Juang  mencoba bangkit. Samar juang  melihat seorang yang tak asing. Ia tampak berdiri menjulang dihadapannya. Wajah datarnya. Tubuh tegap menjulang. Juang mengerjap. Memastikan apa yang dilihatnya bukanlah sebuah bayangan.

“juang..” panggil seseorang tersebut. Juang terkesiap.

 Ia beringsut mundur. Ia meringis. Darah yang mengalir di kakinya. Membuat kepalanya pening. Juang berusaha menjaga kesadarannya. Juang menoleh. Melihat sekeliling. Mencari seseorang yang bisa menolongnya. Sepi. Sunyi.juang mendengus. Pria di hadapannya melangkah maju.juang semakin ketakutan. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Nafasnya mulai tak teratur. Pri tersebut melangkah maju.

Juang semakin beringsut mundur. Berbagai rumor tentang pria dihadapannya. Membuat juang begidik ngeri.

Pria dihadapannya bernama jawa. Jawa dan juang seumuran. Rumor tentang jawa sangat santer di kalangan santri. Bukan hanya dikalangan Angkatan saja. Jawa sangat santer hamper dipelosok pondok mengenalnya. Ia terkenal dengan sosok yang diam, yang lebih menjurus ke angker. Beberapa anak ada yang terang-terangan memperlihatkan kengerian di depan jawa. Jawa bergeming. Bahkan lebih tidak peduli. Tubuh tegap, tinggi berkulit sawo matang khas anak laki-laki jawa. Dengan rambut ikal menambah kesan angker. Siapapun tidak akan ada   yang percaya jika jawa keturunan jawa asli. Karena warna matanya biru. Yang sangat kontras dengan kulitnya. Semua rumor tentang jawa berkelebat di benak juang. Hingga kesadaran juang menghilang.

  • * * *

“TIDAAAAKKK…” teriak juang.

Keringat membasahi seluruh bajunya. Nafasnya memburu. Tak teratur. Juang melihat sekeliling. Ia mengerjap berkali-kali. Ia tengah berada di dalam kamarnya. Juang mendengus.

“jadi semua ini hanya mimpi” batinnya. Ia menghela nafas lega.

“kenapa kau teriak-teriak?” tanya salah seorang temannya. Faris. Juang menggeleng.

“aku hanya mimpi buruk ris, tidurlah lagi” sahut juang. Faris tak banyak tanya. Dan ia segera melanjutkan mimpinya yang sempat terganggu.

Juang mendengus gusar. Mimpinya tampak sangat nyata. Juang tak habis pikir. Bahkan wajah jawa masih sangat membekas dikepalanya. Dengan mata biru jawa yang sangat menghipnotisnya. Mata yang sangat bening. Juang menggeleng. Ia mengusap wajah nya berkali-kali. Juang menoleh ke arah jendela. Gerimis. Aroma tanah yang diguyur hujan. Seketika membuatnya tenang. Ia memejamkan matanya. Menikmati semilir angin yang menyelinap lewat celah jendela.

Juang hendak bangkit. Ia mencoba berpegangan lemari disebelahnya. Tenggorokan juang tercekat. Ia melihat ke arah kaki kanannya. Dan tercengang mendapati kakinya. Kakinya lurus dan ukurannya sama dengan kaki kirinya. Juang memegang lututnya.  Daerah lutut biasanya sangat rawan, atau seringkali terasa nyeri. Walaupun hanya di tekan sedikit. Tak terasa sakit sama sekali. Juang mencoba berjalan. Senyum nya mengembang. Juang berjalan normal layaknya teman-temannya yang normal. Ia mencoba menatap cermin.

“ya Allah..” desisnya tak percaya. Melihat bayangan dirinya yang berdiri tegap. Senyum juang sirna. Juang melihat pantulan dicermin. Sepasang mata yang tengah mengamatinya dari celah jendela. Juang bergidik ngeri. Pemilik sepasang mata tersebut terkesiap matanya bertumbuk langsung dengan kedua mata juang. Ia segera berlari. Juang mengejarnya.

Diluar kamar.

Juang hanya mendapati kesiur angin malam yang menusuk tulang. Matanya nanar melihat sekeliling. Beberapa santri yang sudah terbangun. Menatap juang heran.

“lihat ada  orang lewat tidak?” tanya juang

Anak tersebut heran. Dan menggeleng lemah.

“jangan bohong!” gertak juang.

“dari tadi aku belajar disini tidak lihat siapa-siapa yang lewat” cicitnya ketakuatan melihat wajahnya juang yang mengeras.

Juang mendengus kasar. Ia berbalik. Juang merasa efek mimpi bertemu jawa sangat menguras tenaganya. Padahal hanya sebuah mimpi. Hingga ia sulit membedakan mimpi dan halusinasi. Juang gontai. Juang menghela nafas pelan. Ia melirik jam tangan yang berada di tangannya. Sebentar lagi bel persiapan sholat shubuh. Sebaiknya ia bergegas menuju masjid. juang harus datang lebih awal dari teman-temannya karena keterbatasannya.

Dari juang masih santri baru ia sudah merancang semuanya dengan baik. Dari mulai bangun tidur hingga menjelang tidur. Semua terencana. Pernah juang baru satu hari menginjakkan kaki di pondok. Ia selalu mengikuti bel. Jika bel terdengar ia baru beranjak. Dan hal tersebut bukan hanya dia yang melakukan, kebanyakan santri selalu bermalas-malasan. Juang mengikuti alur santri. Dan hasilnya juang kelimpungan. Dengan asrama yang bertingkat membuatnya kesusahan naik dan turun tangga. Itu dikarenakan salah satu kaki nya bengkok. Dan ukurannya lebih kecil dari kaki satunya.dan juang harus menerima.jika memaksa berdesakan. Yang ada hanya celaka. Juang mengalah. Menunggu sepi. Baru ia terseok-seok turun dari tangga. Selalu seperti itu. Hingga ia dalam aktivitas apapun selalu telat. Dan juang mendapat teguran dari pengurus. Bukan hanya satu. Karena juang melanggar di berbagai departemen. Ada beberapa yang kasihan dengan juang. Dan hanya menegurnya halus. Namun adapula yang kata-kata nya menjatuhkan juang.

“namamu siapa?”

“juang”

“itu hanya sekedar nama, juang, tapi hidupmu tak ada perjuangan sama sekali” juang membenci wajahnya. Wajah meremehkan.

Juang mengepalkan tangannya. Ia hanya bisa menunduk semakin dalam.

“heh juang! Kamu cacat kan? Itu  kekuranganmu kan? Jalan lambat,. Datang selalu terakhir. Apa yang dibanggakan? Cacat ini dalihmu atau bagaimana? Ini bukan pondokmu juang, kau bertingkah seolah kau pemilik pondok.”sahut nya lagi mengejek.

“maaf kang, aku telat soalnya kakiku tak bisa ku ajak kompromi”sahutnya lagi menirukan suara juang. Juang masih terdiam.

 “Tapi otak mu bisa di ajak berpikir kan? Katanya juara kelas, buat berpikir lebih maju saja tidak bisa. Harusnya kamu berpikir bagaimana caranya agar kamu yang cacat ini bisa lebih dulu dari temanmu. Bukan cacatmu hanya sebagai alasan saja.” Ujar pengurus tersebut mengakhiri omelannya. Lalu ia berlalu meninggalkan juang.

Juang masih berdiri mematung. Tangan masih mengepal tak terima dengan ucapan tadi yang menghujaninya. Juang ingin sekali protes. Lidah nya kelu.ia ingin sekali berteriak di depan wajah kang omar “AKU TAK PERNAH MEMINTA, MEMPUNYAI KAKI YANG CACAT!!!!”

Juang tergugu. Baru kali ini ia merasa sangat terhina. Dan sangat keterbelakangan. Karena kaki cacatnya. Juang berjongkok dan memukul kaki kanannya. Bulir bening keluar dari kedua matanya. Nyeri di kaki nya tidak seberapa dengan nyeri di hatinya. Ia memukul dengan mulut terus merapalkan “aku tak pernah meminta mempunayi kaki cacat”. Sejak itu ia bertekad tak akan mengeluh. Dan berjuang untuk selalu datang lebih awal. Dan ia juga mengutuk kaki cacatnya.

Kala itu juang tak menyadari ada sepasang mata yang basah karena melihat keadaan juang.

si kombi

kombi

suara paman jago di pagi hari sangat memekakkan telinga kombi yang masih terbuai oleh mimpi.dia terbangun dari tidur nya. mengedip-ngedipkan matanya. kombi bangun. dan segera membuka jendela kamarnya.

dia melihat paman jago tengah berdiri dengan gagah di batang pohon yang patah. kombi mendesah. hari masih gelap. dia melirik jam dinding di atas cermin kebanggaan nya. jarum jam pendek menunjukakan di arah angka 4. namun dia segera mengambil handuk. dan membersihkan dirinya. dia harus segera mandi dan berangkat bekerja.

selesai mandi. kombi segera memakai dasinya. dan bercermin dengan cermin kebanggaannya. cermin pemberian dari bunga yang pertama kali ia ambil nektarnya. dan sampai saat ini ia belum bisa melupakannya.

“kombi!!!” seseorang mengetuk kamarnya

kombi segera mengambil tas kerja nya. dan keluar dari kamarnya. dia menemukan kedua sahabatnya yang tengah berdiri di depan pintunya dengan senyum lebar.

“kombi, nanti selepas kita kerja, kita akan mengadakan pesta” ujar kumbang. temanyya

kombi mengernyit heran. bagi kawanannya sangat jarang mengadakan pesta. karena yang dilakukan kawanan nya adalah bekerja dan bekerja. mencari nektar. dan mengasilkan madu yang banyak.

“si kumang akan mengadakan pernikahan?” ujar bee di sebelahnya. dengan semangat yang menggebu.

kombi mendesah. dia tahu kabar pernikahan si kumang tetangga ujung kompleksnya. kombi benar-benar tidak tertarik dengan itu. pekerjaannya selepas kerja adalah menatap bunganya dari jauh.

“aku tidak tertarik” ujar nya sambil meninggalkan kedua temannya.

“kamu kan bisa bertemu dengan lebah betina kombi”lanjut kumbang. kombi menggeleng. dia menoleh. dan menatap hamparan bunga lily di sebelah selatan. sebentar lagi musim dingin akan tiba.

“jangan bilang kamu masih menyukai lily si bunga itu?” selidik kumbang. kombi mengangguk lemah. kedua temannya menutup mulutnya kaget.

“kalian berbeda umur dan jenis”ujar bee melemah suaranya. kombi segera berlalu. dan menyibukkan dirinya dengan bekerja. kedua temannya menatap punggung kombi. mereka tahu betapa antusias wajah kombi saat menceritakan bagaimana rupa lily. 2 tahun yang lalu. dan mereka pun tahu jika kombi akan selalu menyempatkan menatap lily dari kejauhan. menatap tawa lily.

awal hubungan keduanya tampak baik-baik saja. namun ketika kombi mengutarakan perasaannya lily mulai melarangnya datang. dengan berteriak-teriak mengusirnya. itulah mengapa kombi selalu menatap nya dari kejauhan.

dan seminggu lagi musim dingin akan tiba.

kombi semakin sering mengunjungi lily. dia menatapnya dari jauh. melihat tawa lily.

namun, ketika tinggal menunggu beberapa hari. kombi tidak bisa menahan rindunya. dia memutuskan mendatangi lily. melihat sorot mata lily, siapapun akan tahu jika ia pun sama sangat merindukan seekor lebah di depannya. yang tengah menatapnya dengan tatapan sendu. lily tersenyum.

kombi memeluk lily.

tidak bisakah waktu berhenti? batin kombi

angin berkesiur kencang. hingga lily tampak bergetar lemah. kombi masih memeluknya. dia mengusap wajah putih lily yang seperti salju. lily tersenyum dan menutup matanya.

kombi tergugu.

dia semakin erat memeluk lily. baginya bunga lily. akan menjadi selamanya bunganya.

gerimis mengguyur tubuh mereka berdua. tubuh kombi bergetar.

Satu Paket

Aku terbangun dini hari. Bahkan sebelum alarmku berbunyi. Suatu yang sedikit mengejutkan. Mengingat untuk membuka mata saja aku sulit. Ditambah aku baru saja tertidur sekitar satu jam.

Aku membuka ponselku.

Dan sedikit memikirkan apa sih yang nanti mau aku tulis di blog? Tentang apa? Seringkali aku dititik yang sama dan pertanyaan itu selalu muncul. Stuck.

Setelah kuteliti. Ku runut aktivitasku selama seharian. Dan pantas saja aku seringkali, bertanya mau menulis apa? Karena waktu membaca ku hampir hilang. Pekerjaanku hanya menscrool ponsel. Melihat story orang, membuat story, komentar.

Keseharianku sangat unfaedah sekali.

Aku mulai mereset ulang schedule. Dan mulai membiasakan diri membuat to do list di buku apa yang akan kulakukan besok.

Dan juga aku harus mengisi amunisi pengetahuan ku dengan membaca. Menulis dan membaca bukankah satu paket yang tak terpisahkan? Bagaikan kanan dan kiri. Suatu keseimbangan yang tidak bisa dipungkiri.

pernah dengar ada quotes

“membaca adalah mengambil nafas, sedangkan menulis adalah membuang nafas”

Dan jika kamu tidak pernah membaca. Lalu bagaimana kamu akan menulis? Kamu seolah kehabisan pembahasan.

cara mengisi amunisi menulis:

  1. Membaca

Selain guna memperkaya pengetahuan. Membaca juga menambah kosakata kita. Dan menjadi melihat kepekaan dalam menulis. Dan buku atau apa yang kita baca bisa untuk menjadi bahan reverensi. Bukan menjiplak loh yaa..

2. Media sosial

Tanpa kita sadari, kita sudah belajar menulis dengan menuliskan caption di media sosial seperti Instagram, facebook, dll. Atau sekedar story whatsaap. Nah, dari media sosial juga banyak sekali informasi. Itu dapat menjadi tambahan informasi kalian.

3. Mencintai dunia tulis menulis

Oya, pernah nggak di depan laptop berjam-jam? Tapi masih bingung mau nulis apa? Aku sering mengalaminya. Nah, jika kalian sama denganku. Otak kita memerlukan ide yang fresh, jangan dipaksa. Kita cob acari inspirasi dengan membaca. Dan jangan lupa untuk mencintai dunia kit aini. Dunia tulis menulis. Aku mencintainya sejak umur ku masih kecil. Dunia kepenulisanku berawal dari menulis diary. Wah, sepertinya sudah umum sekali jika anak perempuan menyukai menulis nya di diary.

Kenapa kok kamu suka menulis? Hoby. Jawabku selalu.

Hoby adalah sesuatu yang kita senangi. Jadi menulis dan membaca adalah hobyku. Dengan membaca aku mendapat pengetahuan dan kosakata. Dan dengan menulis aku mempraktekkan apa yang sudah ku dapat dengan membaca. Yang sedang mulai kutekuni yaitu menulis artikel, esai, atau sejenisnya. Bahasaku sudah terbiasa dengan Bahasa cerita. Karena aku menyukai menulis cerita, cerpen, atau sejenis tsb.

Sempat sekali waktu, aku mencoba menulis artikel atau esai. Aku lupa. Setelah tulisan ku selesai. Aku tertawa. Tulisanku terlihat aneh. Itu yang pertama kali aku membaca artikel yang ku buat. Namun, aku mencoba terus belajar dari temanku yang sudah terbiasa menulis artikel dan esai.

Kepenulisanku dengan sangat bertolak belakang. Dia penulis artikel dan esai. Sedang aku menulis dengan gaya bercerita. Dia pernah sekali memberiku diary nya. Dia menyebutnya penggalan cerpen hidupnya.

Seketika aku tergelak.

Buku tersebut full berisi catatannya. Tapi tetap dengan gaya kepenulisan nya. Diarynya seperti kumpulan artikel dan esai.

Ini ceritaku tentang menulis, bagaimana denganmu?

Oya, jangan lupa selalu membawa catatan kecil dan pena.

Salam literasi

sesal

Sudah berapa hari di rumah? Bukan, sudah berapa bulan?

Ada yang janggal. Setiap aku terbangun dari tidur. Rasa penyesalan yang tak bisa merubah diri. Bukan, merubah kebiasaan yang kian mendarah daging.

“selama di rumah kamu ngapain zumi?”

Pertanyaan yang sedikit menohok. Melihat aktivitas ku yang konsisten di atas Kasur dan menscroll ponsel. Ditambah kebutuhan yang lain seperti makan, minum, tidur dan mandi. Terkutuklah aku. Aku menghela nafas. Aku ingin berubah seperti power ranger. Namun, yang ada malah tubuhku terasa  seperti zombie.itu hanya sebatas keinginan. Nyatanya, aku masih teronggok di atas Kasur.

Jangan bertanya reaksi kedua orang tua ku. Terutama ummiku. Tapi semua celoteh ummi, seolah hanya angin berhembus yang numpang lewat. Entah aku yang dungu. Atau tak mau melihat realiata.

Semenjak masa pandemic. Abah menyibukkan diri di kebun. Ummi hanya di rumah. Seperti ibu-ibu biasanya. Kakakku menjaga toko. Aku dan adik laki-laki mendengkur di atas Kasur. Betapa tidak tau dirinya kami.

Aku mulai menyadari betapa waktuku terbuang sia-sia. Setelah ikut membantu abah di kebun. Tidak sampai 2 jam dikebun. Aku mengeluh dalam hati. Capek, itu yang  aku rasakan. Aku melirik kea rah abah, yang tengah memotong serai yang hendak di liar. Kulitnya menghitam, peluh membasahi dahinya. Hatiku tersentil. “kemana saja kamu selama ini?”

Sisi sentimentalku mulai tercabik. Melihat kondisi abah. Sesal ini, kian menyesakkan. Abah termasuk berkulit putih bersih untuk ukuran laki-laki. Kini, kulitnya menghitam.

Sempat aku mencuri dengar percakapan ummik dan abah. “kalau abah tidak menyibukkan diri di kebun, mungkin abah sudah stress, dengan keadaan ekonomi kita”ujar abah.

Mendengar ucapan abah. Aku sulit bernafas. Sesak sekali. Terkutuklah aku.

Setelah itu, aku mulai memperbaiki kebiasaan yang membuat ku lupa diri. Apalagi kalau bukan tidur dan bermain medsos. Setidaknya aku membaca, atau menulis. Melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Dan membantu abah di kebun.

Sesal dalam diriku tidak akan hilang. Dia masih ada.

Namun, jika aku hanya merutuki diri. Tanpa ada niatan untuk berubah. Percuma. Niat saja pun tak cukup. Aku harus tegas terhadap diri sendiri. Aku hanya perlu membuka lembaran kosong. Dan belajar untuk tidak menjadi pecundang. Setidaknya bertanggung jawab atas diri ini. Untuk lebih baik.

Jadi, apa yang selama ini kalian lakukan? Jangan seperti aku ya,

musim kawin

Hari apa ini? Tanggal berapa?

Sudah dua hari ini. Rumah mungil yang berisikan  tujuh orang selalu kebisingan dengan suara suara kucing jantan atau di desaku biasa memanggilnya “mandung”. Ini malam kedua. Kucing adikku yang diincar oleh para mandung tetangga. Aku sempat bertanya ke ummiku. Apa chimo (nama kucing kami) sepopuler itu ummik? Ummik hanya mengangkat bahu.

Oke. Chimo ternyata menjadi satu-satunya kucing betina. Dan itu membuat nya menjadi incaran para mandung. Ah tuhan berisik sekali rumahku ini? Bayangkan ada sekitar lima kucing jantan mengeong ngeong seolah bilang “ini aku yang paling tampan di komplek sini”.

Yang sedikit membuatku heran dan gemas sendiri. Chimo hamper seumuran dengan adikku yang menjelang 16 tahun. Apakah untuk ukuran kucing chimo terbilang sudah nenek-nenek? Lalu kenapa para mandung itu mengincar chimo?

Dan yang lebih mengagetkan lagi mereka para mandung dengan setia menunggu chimo di luar rumah. Segitunya pengen ngjak kencan chimo? Heranku. Itu berselang 3 jam. Mereka tidak beranjak sama sekali. Menyebalkan.

Ada yang tau umur kucing sampai berapa tahun? Penasaran tingkat dewa.

“apa aku perlu meminta trik ke chimo buat dapet gebetan?” status kakakku. Majikan nya jomblo berwibawa. Dan chimo. Oke dia sangat popular di kompleks. Ini sedikit menganggu.

Apa ada yang aneh? BTW musim kawin kucing berapa hari ya? Kok nggak kelar kelar?

(REVIEW BUKU) HATI SUHITA

SINOPSIS

Alina suhita, perempuan dari trah darah biru pesantren dengan moyang pelestari ajaran jawa, sejak remaja terikat perjodohan. Ketika hari pernikahan tiba, gus birru suaminya, menumpahkan kekesalan dengan tidak mau menggauli suhita. Tinggal dalam satu kamar tapi tempat tidur terpisah sejak malam pertama pernikahan. Tanpa perbincangan apalagi kehangatan, namun bisa bersandiwara sebagai pasangan pengantin mesra ketika di luar.

Alina suhita begitu patuh. Khas tawadhu santri. Baginya, mikul dhuwur mendem jeru menjadi pegangan yang mutlak di terima dan dilakukan tanpa reserve.gejolak Hasrat seorang istri yang disambut penolakan terang-terangan suami, tepat ketika perempuan masa lalu suami muncul menjalin komunikasi layaknya sepasang kekasih, adalah penderitaan yang mengiringi konflik batinnya selama beberapa purnama.

Namun yang tersemat dalam nama suhita, adalah kekuatan tiada bandingan. Suhita menelan semua getir itu sendirian. Merebahkannya di dalam sujud, melantunkannya dalam ayat-ayat Tuhan yang ia hapal seluruhnya, juga tengadah doa di tempat orang-orang suci di semayamkan.

Mustika ampal dan pengabsah wangsa, menjadi ujung dari kisah cinta rumit dan dramatis ini. Bahwa cinta adalah kesediaan total untuk menerima takdir serta melepaskan diri dari segala hal yang berpotensi memusnahkan Bahagia!

Judul buku : hati suhita

Penulis        : khilma anis

Hal               :405

Penerbit      : telaga aksara

ISBN             :978-602-51017-4-8

Alina perempuan yang sedari kecil sudah terikat perjodohan dengan seorang putra tunggal yang bernama gus birru. Bahkan orang tua nya sudah mendoktrin bahwa alina segalanya, cita-citanya, dan tujuan hidupnya, hanya dipersembahkan untuk pesantren al-anwar. Pesantren mertuanya. Bahkan kyai dan bu nyai Hannah mertunya, mengusulkan untuk alina kuliah mengambil jurusan tafsir hadist. Padahal di lubuk hatinya ia menginginkan mengambil jurusan sastra. Semua itu di karenakan putra tunggal nya gus birru, dianggap tidak akan sanggup mengemban estafet kemimpinan pesantren. Karena hal tersebut alina yang yang di gadang-gadangkan akan melanjutkan estafet kemimpinanan di pesantren. Akan tetapi ia mencoba dengan segenap hati menerimanya.

“dimana buku Bertrand russelku?” dia mengernyitkan alis, menginterogasi ku. Aku cepat-cepat mengambil buku sejarah filsafat barat dari meja riasku. Tadinnya buku itu tergeletak terbuka di lengan sofa. Aku takut buku setebal itu menimpa pelipisnya saat ia begitu saja merebahkan kepala di sana. Maka aku membereskannya.

“gak usah mindah-mindah buku yang kubaca,” katanya cukup lantang, tanpa melirikku. Aku tak mungkin menjelaskan kecemasanku kepadanya karena itu sia-sia. Dia begitu dingin, hanya bicara seperlunya walaupun aku ini istrinya. Hal 09

Gus birru adalah seorang aktivis di kampusnya. Ia enggan bahkan terkesan tak peduli dengan pesantren kedua orang tuanya. Ia menjadi seorang aktivis kampus sehingga ia meneriakkan hak asasi, namun ia sendiri terkungkung. Ditambah lagi ada seseorang yang menarik perhatiannya.dia adik kelas di kampusnya. Ia bernama ratna rengganis. Gus tak bisa menghapus bayangan ratna rengganis dari fikirannya.

Lalu bagaimana gus birru dengan Aliana? Apakah alina mempertahankan biduk rumah tangganya? Dengan adanya ratna rengganis yang jua hilang dari gus birru?

Novel ini bergenre romance dan sejarah jawa.dengan berbagai karakter. Ditambah saya sangat menyukai sejarah. Novel ini recommed bgt. Dengan latar belakang pesantren. Awalnya saya sedikit greget dengan sikap alina yang lemah sekali. Ah tapi ia ternyata perempuan idaman.di tambah dengan sikap gus birru yang bikin gemash. Gus kenapa anda dingin sekali??? Huh

Alina mencintai gus birru. Dan gus birru mencintai rengganis. Hingga membuat sosok alina semakin tak terlihat di mata gus birru. Di tengah terpuruk nya alina, aruna selalu menenangkannya. hingga munculah kembali sosok kang dharma yang sempat membuat hati alina menghangat.

Jadi bagaimana kisah mereka? Bagaimana dengan hati alina yang kian melemah? Lalu siapa yang akan melanjutkan estfet kepemimpinan pesantren al-anwar? Apakah alina akan mempertahankan pernikahannya? Akankah ratna rengganis merebut gus birru dari alina? Mau tau ceritanya? Ayo baca dong…