setor hafalan atau setor nyawa?

sudah sangat maklum, bagi kita kalangan para santri setor hafalan seperti halnya nadzom, alqur’an dll. euforia sebelum setoran adalah satu hal yang sangat biasa santer terdengar, bahwa biasanya kita sudah sangat yakin dengan hafalan kita, ehh seketika hilang, hanya melihat wajah guru kita….

hal seperti itupun saya mengalaminya berkali-kali, padahal saya merasa semua yang saya siapkan sangat matang..

biarkan diera dewasa ini, saya ingin berbagi cerita, mungkin sudah sangat mainstream,…

setelah magrib, kulangkahkan kaki menuju “ndalem beliau”. dengan langkah kaki dan hati yang mantap. sesampainya di ndalem beliau. terdengar suara anak-anak yang lain yang telah tiba duluan, tengah memuraja’ah hafalan mereka. suara mereka yang serentak, dari kejauhan terdengar seperti lebah berdengung. suara lebah berdengung itulah yang selalu membuatk merindukan suasananya.

sebelum membuka alqur’an, aku memulainya dengan tawasul terlebih dahulu. baru kemudian aku memuraja’ahnya (berubah jadi lebah.. haha). hingga tiba di halaman kelima muraja’ahku, seketika suasana hening, senyap. tak ada lagi lebah berdengung. tak ada satu pun suara yang keluar dari rongga mulut. nafaspn seolah tertahan. serentak semua menundukan kepala (salah satu adab kepada guru). tidak ada satu pun dari kami yang berani mengangkat kepala. moment ini selalu berhasil membuat jantung siapapun berdetak lebih cepat.

derap langkah beliau halus, lembut. ketika beliau tiba, kami sudah berbaris rapi, mengular. aku mendapat barisan paling akhir karna aku datang sedikit terlambat. kemudian kumantapkan kembali hafalanku. mulutku komat kamit melafadkan alfatihah, menghadiahi beliau.

hingga tiba giliranku. seketika wajahku pias. butiran keringat dingin mulai keluar dari pelipisku. padahal in hanya setoran biasa, huhhhh setor hafalan rasa-rasa setor nyawa. aku mencoba fokus. aku memulai nya perlahan, hingga hilang nervousku. tiba -tiba di tengah hafalan, aku melafadkan nya seperti orangg berkumur. “aduh gimana ini?” batinku. beliau membetulkan hafalan ku, aku mengikutinya patah-patah. PLASSSSSS… semua hafalanku tiba-tiba menghilang,. rasanya ingin menangis, tegang kembali menyergapku.beliau menegurku kembali, aku mencoba fokus. ketika aku mencoba lagi. Alhamdillah beliau membenarkan, dan hingga akhir hafalanku mengalir, semua sudah kembali dalam memori. aku bernafas lega. setelah hafalanku berakhir beliau mendoakanku “barakallah” yang kuaminkan berkali-kali agar para malaikat yang hadir dalam majelis mengikuti mengamini. AMIN.

Diterbitkan oleh miss kacamata

food fighter 1/4 /peminum kopi di pagi hari/ penyuka indomie original/ penyuka dongeng anak-anak/ berharap bisa berteman dengan angelina jolie dan raisa/ pecinta kocheng dan kaktus.

2 tanggapan untuk “setor hafalan atau setor nyawa?

  1. Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.

    Semoga bacaan qurannya menjadi berkah, aamiin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: