Juang (Part 1)

Jalanan lengang. Udara  dinginnya malam kian menusuk tulang. Seorang anak laki-laki dengan susah payah membawa 3 tumpuk kitab tebal yang dibawa nya. Ia melirik jam tangannya. Lima belas menit lagi bel musyawarah akan berbunyi. Ia menegaskan kepada dirinya agar selalu awal, sebelum teman-temannya. Dengan keterbatasan yang ia miliki .ia bernama juang. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Lengang. Ia salah duga ternyata dari arah kanan. Sepeda motor melaju keras. Hingga…

“BRAKKK”

Pengendara sepeda motor langsung bangkit dan meninggalkan juang yang terkapar di rerumputan sendiri. Semua kitabnya terpental entah kemana. Juang meringis, kakinya terasa sakit. Juang  mencoba bangkit. Samar juang  melihat seorang yang tak asing. Ia tampak berdiri menjulang dihadapannya. Wajah datarnya. Tubuh tegap menjulang. Juang mengerjap. Memastikan apa yang dilihatnya bukanlah sebuah bayangan.

“juang..” panggil seseorang tersebut. Juang terkesiap.

 Ia beringsut mundur. Ia meringis. Darah yang mengalir di kakinya. Membuat kepalanya pening. Juang berusaha menjaga kesadarannya. Juang menoleh. Melihat sekeliling. Mencari seseorang yang bisa menolongnya. Sepi. Sunyi.juang mendengus. Pria di hadapannya melangkah maju.juang semakin ketakutan. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Nafasnya mulai tak teratur. Pri tersebut melangkah maju.

Juang semakin beringsut mundur. Berbagai rumor tentang pria dihadapannya. Membuat juang begidik ngeri.

Pria dihadapannya bernama jawa. Jawa dan juang seumuran. Rumor tentang jawa sangat santer di kalangan santri. Bukan hanya dikalangan Angkatan saja. Jawa sangat santer hamper dipelosok pondok mengenalnya. Ia terkenal dengan sosok yang diam, yang lebih menjurus ke angker. Beberapa anak ada yang terang-terangan memperlihatkan kengerian di depan jawa. Jawa bergeming. Bahkan lebih tidak peduli. Tubuh tegap, tinggi berkulit sawo matang khas anak laki-laki jawa. Dengan rambut ikal menambah kesan angker. Siapapun tidak akan ada   yang percaya jika jawa keturunan jawa asli. Karena warna matanya biru. Yang sangat kontras dengan kulitnya. Semua rumor tentang jawa berkelebat di benak juang. Hingga kesadaran juang menghilang.

  • * * *

“TIDAAAAKKK…” teriak juang.

Keringat membasahi seluruh bajunya. Nafasnya memburu. Tak teratur. Juang melihat sekeliling. Ia mengerjap berkali-kali. Ia tengah berada di dalam kamarnya. Juang mendengus.

“jadi semua ini hanya mimpi” batinnya. Ia menghela nafas lega.

“kenapa kau teriak-teriak?” tanya salah seorang temannya. Faris. Juang menggeleng.

“aku hanya mimpi buruk ris, tidurlah lagi” sahut juang. Faris tak banyak tanya. Dan ia segera melanjutkan mimpinya yang sempat terganggu.

Juang mendengus gusar. Mimpinya tampak sangat nyata. Juang tak habis pikir. Bahkan wajah jawa masih sangat membekas dikepalanya. Dengan mata biru jawa yang sangat menghipnotisnya. Mata yang sangat bening. Juang menggeleng. Ia mengusap wajah nya berkali-kali. Juang menoleh ke arah jendela. Gerimis. Aroma tanah yang diguyur hujan. Seketika membuatnya tenang. Ia memejamkan matanya. Menikmati semilir angin yang menyelinap lewat celah jendela.

Juang hendak bangkit. Ia mencoba berpegangan lemari disebelahnya. Tenggorokan juang tercekat. Ia melihat ke arah kaki kanannya. Dan tercengang mendapati kakinya. Kakinya lurus dan ukurannya sama dengan kaki kirinya. Juang memegang lututnya.  Daerah lutut biasanya sangat rawan, atau seringkali terasa nyeri. Walaupun hanya di tekan sedikit. Tak terasa sakit sama sekali. Juang mencoba berjalan. Senyum nya mengembang. Juang berjalan normal layaknya teman-temannya yang normal. Ia mencoba menatap cermin.

“ya Allah..” desisnya tak percaya. Melihat bayangan dirinya yang berdiri tegap. Senyum juang sirna. Juang melihat pantulan dicermin. Sepasang mata yang tengah mengamatinya dari celah jendela. Juang bergidik ngeri. Pemilik sepasang mata tersebut terkesiap matanya bertumbuk langsung dengan kedua mata juang. Ia segera berlari. Juang mengejarnya.

Diluar kamar.

Juang hanya mendapati kesiur angin malam yang menusuk tulang. Matanya nanar melihat sekeliling. Beberapa santri yang sudah terbangun. Menatap juang heran.

“lihat ada  orang lewat tidak?” tanya juang

Anak tersebut heran. Dan menggeleng lemah.

“jangan bohong!” gertak juang.

“dari tadi aku belajar disini tidak lihat siapa-siapa yang lewat” cicitnya ketakuatan melihat wajahnya juang yang mengeras.

Juang mendengus kasar. Ia berbalik. Juang merasa efek mimpi bertemu jawa sangat menguras tenaganya. Padahal hanya sebuah mimpi. Hingga ia sulit membedakan mimpi dan halusinasi. Juang gontai. Juang menghela nafas pelan. Ia melirik jam tangan yang berada di tangannya. Sebentar lagi bel persiapan sholat shubuh. Sebaiknya ia bergegas menuju masjid. juang harus datang lebih awal dari teman-temannya karena keterbatasannya.

Dari juang masih santri baru ia sudah merancang semuanya dengan baik. Dari mulai bangun tidur hingga menjelang tidur. Semua terencana. Pernah juang baru satu hari menginjakkan kaki di pondok. Ia selalu mengikuti bel. Jika bel terdengar ia baru beranjak. Dan hal tersebut bukan hanya dia yang melakukan, kebanyakan santri selalu bermalas-malasan. Juang mengikuti alur santri. Dan hasilnya juang kelimpungan. Dengan asrama yang bertingkat membuatnya kesusahan naik dan turun tangga. Itu dikarenakan salah satu kaki nya bengkok. Dan ukurannya lebih kecil dari kaki satunya.dan juang harus menerima.jika memaksa berdesakan. Yang ada hanya celaka. Juang mengalah. Menunggu sepi. Baru ia terseok-seok turun dari tangga. Selalu seperti itu. Hingga ia dalam aktivitas apapun selalu telat. Dan juang mendapat teguran dari pengurus. Bukan hanya satu. Karena juang melanggar di berbagai departemen. Ada beberapa yang kasihan dengan juang. Dan hanya menegurnya halus. Namun adapula yang kata-kata nya menjatuhkan juang.

“namamu siapa?”

“juang”

“itu hanya sekedar nama, juang, tapi hidupmu tak ada perjuangan sama sekali” juang membenci wajahnya. Wajah meremehkan.

Juang mengepalkan tangannya. Ia hanya bisa menunduk semakin dalam.

“heh juang! Kamu cacat kan? Itu  kekuranganmu kan? Jalan lambat,. Datang selalu terakhir. Apa yang dibanggakan? Cacat ini dalihmu atau bagaimana? Ini bukan pondokmu juang, kau bertingkah seolah kau pemilik pondok.”sahut nya lagi mengejek.

“maaf kang, aku telat soalnya kakiku tak bisa ku ajak kompromi”sahutnya lagi menirukan suara juang. Juang masih terdiam.

 “Tapi otak mu bisa di ajak berpikir kan? Katanya juara kelas, buat berpikir lebih maju saja tidak bisa. Harusnya kamu berpikir bagaimana caranya agar kamu yang cacat ini bisa lebih dulu dari temanmu. Bukan cacatmu hanya sebagai alasan saja.” Ujar pengurus tersebut mengakhiri omelannya. Lalu ia berlalu meninggalkan juang.

Juang masih berdiri mematung. Tangan masih mengepal tak terima dengan ucapan tadi yang menghujaninya. Juang ingin sekali protes. Lidah nya kelu.ia ingin sekali berteriak di depan wajah kang omar “AKU TAK PERNAH MEMINTA, MEMPUNYAI KAKI YANG CACAT!!!!”

Juang tergugu. Baru kali ini ia merasa sangat terhina. Dan sangat keterbelakangan. Karena kaki cacatnya. Juang berjongkok dan memukul kaki kanannya. Bulir bening keluar dari kedua matanya. Nyeri di kaki nya tidak seberapa dengan nyeri di hatinya. Ia memukul dengan mulut terus merapalkan “aku tak pernah meminta mempunayi kaki cacat”. Sejak itu ia bertekad tak akan mengeluh. Dan berjuang untuk selalu datang lebih awal. Dan ia juga mengutuk kaki cacatnya.

Kala itu juang tak menyadari ada sepasang mata yang basah karena melihat keadaan juang.

Diterbitkan oleh miss kacamata

food fighter 1/4 /peminum kopi di pagi hari/ penyuka indomie original/ penyuka dongeng anak-anak/ berharap bisa berteman dengan angelina jolie dan raisa/ pecinta kocheng dan kaktus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: